Jelang kembalinya David Villa ke Mestalla,
bekas homebase-nya selama lima tahun
merumput untuk Valencia, Kamis (3/3)
dinihari WIB, GOAL.com merunut sepuluh
bintang -- termasuk El Guaje yang sekarang
bernaung di Barcelona -- yang pernah
begitu lekat dengan sebuah klub, menjadi
pujaan pendukung, namun akhirnya pergi
meninggalkan tim masing-masing dengan
berbagai sebab.
Alessandro Nesta (Lazio-AC Milan, 2002)
Di masa jayanya, Nesta sering disebut-
sebut sebagai salah satu bek terbaik dunia.
Mantan kapten Lazio ini juga kerap
diperbandingkan dengan Francesco Totti, il
capitano AS Roma, yang notabene rival
sekota Lazio, karena sama-sama dibesarkan
akademi klub dan menjadi kapten di usia
muda.
Krisis keuangan yang mendera pada tahun
2002 membuat Gli Aquilotti terpaksa
menjual pemain-pemain terbaiknya,
termasuk Nesta yang dilego ke AC Milan
dengan nilai €30 juta.
Thierry Henry (Arsenal-Barcelona, 2007)
Sempat mandul dalam delapan
pertandingan pertamanya bersama
Arsenal, Henry melesat hingga akhirnya
berhasil menjadi pencetak gol terbanyak
The Gunners sepanjang masa dengan total
226 gol dalam delapan tahun kariernya
bersama klub London Utara tersebut.
Pemain asal Prancis ini juga sempat
menjadi kapten Arsenal selama dua musim
sebelum hijrah ke Barcelona pada tahun
2007.
“Karena senioritas saya, ditambah fakta
bahwa saya adalah kapten dan kebiasaan
saya meminta bola, terkadang mereka
[rekan-rekan setim di Arsenal] tetap
memberi bola walaupun saya sedang tidak
dalam posisi bagus.
Karena itu saya rasa
adalah hal yang baik bagi tim jika saya
pindah,” ujar Henry menjelaskan alasan
kepindahannya waktu itu.
Ronaldinho (Barcelona-AC Milan, 2008)
Dinho mengawali sepak terjangnya di
Eropa bersama klub Ligue 1 Prancis, Paris
St. Germain, tapi saat membela Barcelona-
lah namanya benar-benar melejit. Pemain
Terbaik Dunia FIFA 2004 dan 2005 ini sudah
menjadi nyawa Blaugrana ketika Lionel
Messi baru mengorbit. Di era Frank
Rijkaard, Ronaldinho sukses mengantar
Barca meraih dua gelar La Liga, satu Liga
Champions, dan dua Piala Super Spanyol.
Sayang, kedatangan pelatih anyar Pep
Guardiola dibarengi pernyataan sang
entrenador bahwa Dinho tidak termasuk ke
dalam rencana masa depannya. Pemain
kelahiran 21 Maret 1980 itu pun pindah ke
Milan untuk menyelamatkan kariernya.
Luis Figo (Barcelona-Real Madrid, 2000)
Satu dari sedikit pemain Barcelona yang
berani menyeberang langsung ke Real
Madrid. Figo rela dicap pengkhianat oleh
publik Catalan yang sempat begitu
mengidolakannya dengan menerima ajakan
sang musuh abadi. Pemilik caps terbanyak
di timnas Portugal ini dibeli Madrid dengan
harga €45 juta yang sekaligus
menjadikannya pemain termahal dunia
ketika itu dan mengawali era Los Galacticos
bentukan Florentino Perez di Santiago
Bernabeu. Saking sakit hatinya pendukung
Los Cules, Figo pernah dilempari kepala
babi kala menyambangi Camp Nou
bersama Madrid pada 2002.
Fernando Torres (Atletico Madrid-Liverpool,
2007, dan Liverpool-Chelsea, 2011)
El Nino sudah mengapteni Atletico Madrid
saat usianya baru menginjak 19 tahun.
Meski belum pernah mengantar Los
Colchoneros meraih gelar bergengsi, Torres
menyumbang total 92 gol selama enam
tahun berkiprah bersama klub yang
berbasis di ibu kota Spanyol itu. Sempat
menolak tawaran Chelsea di akhir musim
2005/06, personil La Furia Roja itu akhirnya
meninggalkan Vicente Calderon untuk
bergabung dengan klub Liga Primer
lainnya, Liverpool, setahun berselang.
Dalam skuad The Reds, Torres langsung
membentuk kerja sama apik dengan
kapten Steven Gerrard, dan legenda
Calderon itu dengan cepat menjadi pujaan
publik Anfield. Sayang, pada akhirnya
Torres melukai Liverpudlians karena
menerima pinangan Chelski sebesar £50
juta menjelang ditutupnya winter transfer
window tahun ini.
David Beckham (Manchester United-Real
Madrid, 2003)
Sulit dipungkiri bahwa Beckham adalah
salah satu aktor penting dalam raihan
treble winners Manchester United pada
musim 1998/99. Selain tendangan bebas
khasnya, tentu publik tak akan melupakan
dua sepak pojok Becks yang mengawali
gol-gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar
Solksjaer ke gawang Bayern Muenchen di
final Liga Champions 1999.
Namun, sejak Beckham menikahi Victoria
Adams, manajer Sir Alex Ferguson menilai
konsentrasinya di sepakbola mulai
berkurang, dan hubungan antara sang bos
dengan anak asuhnya tersebut mulai
renggang sejak awal milenium baru.
Puncaknya terjadi pada Februari 2003.
Sejumlah laporan menyebut Fergie yang
murka setelah United ditekuk Arsenal di
Piala FA menendang sepatu yang mengenai
pelipis Beckham hingga robek. Insiden
tersebut disinyalir sebagai pendorong sang
megabintang untuk pergi dari Old Trafford
di akhir musim 2002/03.
David Villa (Valencia-Barcelona, 2010)
Selama lima temporada membela Valencia,
argo gol Villa selalu menembus angka di
atas 20 per musimnya. Tak pelak lagi, eks
bomber Sporting Gijon dan Real Zaragoza
itu adalah sosok tak tergantikan di
Mestalla. Pernah berujar tak akan
meninggalkan Valencia kecuali pihak klub
ingin melepasnya, pesepakbola yang
sempat dikait-kaitkan dengan Real Madrid,
Liverpool, Chelsea, Manchester United, dan
Barcelona ini akhirnya berlabuh ke klub
yang disebut terakhir setelah Los Ches
menyetujui tawaran €40 juta yang
disodorkan Barca pada musim panas 2010.
Kaka (AC Milan-Real Madrid, 2009)
Pada musim perdananya memakai jersey
merah-hitam setelah digaet dari Sao Paulo,
Kaka langsung mematenkan satu tempat di
starting XI dan berperan mengantar Milan
merebut scudetto
2003/04. Penampilan ciamik
pada stagione tersebut juga membuatnya
dianugerahi gelar Pemain Terbaik Serie A.
Gagal menjuarai Liga Champions 2005
karena I Diavolo takluk dari Liverpool via
adu penalti, dua tahun kemudian Kaka
‘ sendirian’ membawa Milan
menggondol La Orejona alias Si Kuping
Besar untuk kali ketujuh sepanjang sejarah.
Rossoneri menuntaskan dendam terhadap
Pool dengan kemenangan 2-1 di partai
puncak.
Pria bernama lengkap Ricardo Izecson dos
Santos Leite itu semakin dicintai Milanisti
setelah menolak tawaran bombastis £100
juta dari Manchester City pada Januari
2009. “Saya ingin sampai tua di Milan dan
bermimpi menjadi kapten klub,” kata
sang playmaker ketika itu.
Akan tetapi, tak lama setelah itu Kaka
meralat ucapannya dan mengatakan
dirinya mungkin pergi jika Milan memang
ingin menjualnya. Hal itu menjadi
kenyataan setengah tahun berselang. Kubu
San Siro ogah melepas kibasan fulus
sebesar €68,5 juta dari Real Madrid
sehingga rela membiarkan Pemain Terbaik
Dunia 2007 itu hijrah ke La Liga.
Cristiano Ronaldo (Manchester United-Real
Madrid, 2009)
Ronaldo menjadi pemain Portugal pertama
yang merumput untuk Manchester United
tatkala direkrut dari Sporting Lisbon pada
musim panas 2003. Pemain yang saat itu
masih berusia 18 tahun tersebut diberi
nomor punggung tujuh warisan David
Beckham oleh Sir Alex Ferguson walaupun
Ronaldo sebenarnya meminta nomor 28,
angka yang dipakainya di Sporting.
Mengantar United menyabet Piala FA 2004
dan Piala Liga 2006 dengan sumbangan
sebiji gol di masing-masing final, kilau
pemain bertinggi 186 cm itu semakin
terang pada musim 2006/07. Torehan 17
gol Ronaldo sangat berperan dalam raihan
juara Liga Primer United waktu itu. Puncak
karier CR7 di Old Trafford tersaji musim
berikutnya, ketika ia mencetak total 42 gol
di semua ajang dan membantu The Red
Devils mencaplok titel ganda, Liga Primer
dan Liga Champions 2008. Di tahun yang
sama, Ronaldo juga diganjar gelar Pemain
Terbaik Dunia versi FIFA.
Pada Juni 2009, United menerima tawaran
₤ 80 juta dari Real Madrid untuk Ronaldo
setelah sang pemain mengisyaratkan
keinginannya untuk bergabung dengan
raksasa Spanyol itu. Angka tersebut masih
menjadi rekor transfer termahal dunia
hingga saat ini.
Raul Gonzalez (Real Madrid-Schalke 04,
2010)
Sempat dibina oleh akademi Atletico
Madrid selama dua tahun (1990-1992),
Raul pindah ke tim taruna Real Madrid
setelah Jesus Gil, presiden Atletico saat itu,
menutup akademi Los Rojiblancos karena
ingin menghemat pengeluaran klub.
Ironisnya, Raul justru mencetak gol debut
untuk tim senior Madrid ke gawang Atletico
pada 5 November 1994. Pertandingan
tersebut adalah kali kedua ia merumput
bersama Si Putih setelah diberi
kepercayaan untuk pertama kalinya oleh
Jorge Valdano, yang ketika itu menjadi
pelatih, sepekan sebelumnya.
Raul mulai rutin menjadi starter di Madrid
sejak musim 1995/96, kala dirinya
melesakkan 19 gol dari 40 partai La Liga,
dan mewarisi ban kapten dari Fernando
Hierro pada 2003. Enam gelar La Liga,
empat Piala Super Spanyol, tiga trofi Liga
Champions, dua Piala Interkontinental, dan
satu titel Piala Super Eropa menjadi
sumbangan sang delantero ke dalam
lemari piala di Santiago Bernabeu, plus
segudang rekor pribadi yang dicatatnya
dengan Los Merengues.
Pada 2008, Raul -- bersama Iker Casillas --
memperoleh kontrak ‘seumur hidup’
dari Madrid. Klausul dalam kontrak tersebut
menyatakan masa kerja kedua pemain itu
akan terus diperpanjang secara otomatis
jika tampil minimal 30 kali dalam semusim.
Kendati demikian, hal tersebut tak mampu
menahan kepergian pemain yang sekarang
berumur 33 tahun itu ke Schalke 04 pada
awal musim ini. Jose Mourinho, entrenador
yang mendarat di Madrid musim panas
silam, ingin Raul bertahan, tapi
keengganan menjadi striker cadangan
membulatkan tekad Sang Pangeran
Bernabeu untuk meninggalkan istananya.
ARTIKEL UNITED
Langganan:
Posting Komentar (Atom)










0 komentar:
Posting Komentar